BEKERJA DENGAN HATI DAN PIKIRAN

Oleh
Drs. Palwo Adji, M.Pd.
A. Latar Belakang
Hasil PPD – Yayasan PSAK belum sesuai dengan harapan. Hal demikian dikarenakan citra lembaga meningkat tidak secepat competitor. Sedangkan perbaikan keadaan terus diupayakan, seperti faktor fisik, faktor kinerja, faktor komunikasi dengan masyarakat terus-menerus diupayakan meningkat.
Sekuat apapun kita mengkomunikasikan tentang PSAK kepada masyarakat kalau pelayanan kita tidak memikat, tentunya kepercayaan itu tidak akan diberikan. Pelayanan yang menjawab kebutuhan masyarakat menjadi faktor pembicaraan kami.
B. Bekerja Dengan Hati dan Pikiran
Kita bekerja menghasilkan produk berupa jasa pelayanan pendidikan. Mendidik bermakna mendampingi orang lain menuju ke pendewasaaan dalam arti hidup secara mandiri dan bersinergi.
Fungsi utama guru sebagai pendidik siswa bukan sekedar mengajar dalam arti menginternalisasikan bahan ajar. Dalam menjalankan fungsinya guru seharusnya mengenal setiap siswa yang didampingi, dalam hal mengetahui – spirit hidupnya, nilai-nilai yang dianutnya dalam menjalani hidup dan kecakapan guna menjalai kehidupannya. Kecakapan siswa guna menjalani kehidupan; standar pelayanan minimalnya sudah didesain oleh sistim pendidikan nasional; Hal yang demikian pada umumnya sudah diupayakan oleh guru secara optimal melalui sistim yang ada yang perlu dipertanyakan apakah guru dalam menjalankan tugas sudah memberikan seluruh hari dan pikirannya untuk mendukung kualitas pelayanan dalam menghasilkan produk jasa pendidikan.
1. Bekerja dengan hati
Akhir-akhir ini orang mulai beralih fokus dari berpikir dengan otak kiri dan kanan (yang saya definisikan bekerja dengan pikiran) menuju ke berfikir dengan otak tengah (yang saya definisikan bekerja dengan hati). Di dalam hati terdapat dua bilik yakni bilik spiritual dan bilik moral.
Spiritualitas kinerja seseorang memberi alasan seberapa banyak energi yang harus dialirkan untuk bekerja keras agar tujuan kerja tercapai. Spiritual kinerja Kristen di dasari keyakinan-keyakinan antara lain: “carilah kerajaan sorga dan kebenarannya maka semua akan dicukupkan bagimu”; Hal kerajaan sorga adalah permasalahan iman “iman, pengharapan dan kasih; dan kasih adalah hal yang utama”; Hal kebenaran adalah hal kasih dengan ajaran-ajaran seperti: “jangan membalas kejahatan dengan kejahatan, kalahkan kejahatan dengan kasih”.; “Bekerjalah dengan tekun seperti petani, tanpa pamrih seperti pejuang di medan perang, professional seperti atlit dalam menghadapi lomba”. “Yakinlah bahwa Tuhan mampu merubah rancangan malapetaka yang dirancang orang lain menjadi rancangan damai sejahtera bagi kami sebab Tuhan menyediakan rancangan damai sejahtera bagi orang yang mengasihi Allah”. Keyakinan-keyakinan kita seperti hal-hal di atas akan menyelamatkan kita atau dengan kata lain “Imanmu yang menyelamatkanmu”.
Hal moral telah banyak dibahas dalam buku etika kerja Kristen dan kita dapat belajar banyak dari situ. Fokus bicara kami berikut ini adalah adanya hukum alam atau hukum di dunia yang diberlakukan oleh sang pencipta dunia ini. Hukum itu adalah hukum kasih.
Perhatikan ilustrasi berikut ini: ada seorang Kristen yang hidup saleh, murah hati sehingga pada waktu meninggal ia yakin pasti masuk sorga. Namun apa yang terjadi?; pada saat dia menghadap Tuhan, Tuhan berfirman enyahlah dari hadapan-Ku orang bebal, sebab: waktu aku lapar kamu tidak memberi aku makan, waktu aku telanjang kamu tidak memberi aku pakaian, dan waktu aku haus kamu tidak memberi aku minum. Jawab orang itu: kapan itu Tuhan?; Jawab Tuhan: waktu di lingkungan kerja kamu tidak bekerja seperti yang aku inginkan yakni tekun seperti petani, tanpa pamrih seperti pejuang di medan perang, professional seperti atlit yang akan menghadapi lomba. Sehingga enyahlah dari hadapan-Ku.
Bapak/Ibu guru yang terkasih kita harus peduli terhadap nasib teman-teman sekerja kita. Kita harus peduli dengan masa depan anak-anak didik kita dan bentuk kepedulian kita wujudkan dengan kerja keras berdasarkan pada spiritual dan moral kerja.
Melihat gaji rendah dan tunjangan hari tua rendah serta kemampuan daya dukung keuangan rendah, Yayasan PSAK terus berjuang untuk meningkatkan. Bapak/Ibu guru telah melihat dan merasakan hasil perjuangan Pengurus Yayasan PSAK.
Saya sebagai guru melihat banyak peluang untuk bekerja keras meningkatkan mutu pelayanan. Saat saya mengajar ada kebiasaaan kecil siswa yang perlu saya perjuangkan untuk diubah dan itu prinsip seperti: saat saya mengajar perhatian anak sering beralih ke bicara bisik-bisik dengan sesama teman, merenung dengan pandangan kosong, main-main dengan HP, dan lain sebagainya. Dari pendalaman masalah ternyata anak tidak faham dengan kata-kata yang saya rangkai menjadi satu prinsip yang harus terinternalisasi. Pada saat saya berbicara menggunakan kata variable, kata lebih besar/lebih kecil, kata negative/positif, ternyata kata-kata itu tidak dikenal dengan betul oleh siswa. Sehingga saat saya menjelaskan cara menyelesaikan pertidaksamaan x2 – x – 6 > 0 anak tidak menyambung sama sekali. Sehingga saya harus berhenti sejenak mengajar berdasarkan RPP dan merancang pembelajaran baru, yakni pembelajaran klinik. Demikian juga dengan tidak jenuh-jenuh melakukan control terhadap kualitas KBM dari dalam kelas dikaitkan dengan tingkat kesungguhan siswa belajar dengan hati dan pikiran termasuk kendala pribadi siswa yang perlu diberi jalan keluarnya.
2. Bekerja dengan pikiran
Jabatan guru adalah jabatan profesi. Jadi guru harus bekerja secara professional. Agar dapat bekerja secara professional banyak buku yang memberi pertimbangan untuk itu. Dalam tulisan ini kami akan focus pada cara mengaktifkan otak kiri dan otak kanan sesuai dengan cirri khas sekolah kita. Otak kiri adalah otak yang bekerja secara teratur, logis dan sistematis; otak ini bekerja dengan memperhatikan aturan-aturan dan hukum-hukum yang jelas.
Otak kanan adalah otak yang bekerja secara acak; otak ini berfungsi memberi makna terhadap data dan fakta yang ada; otak ini bekerja secara intuisi dan reflek. Sering cara kerja otak ini secara liar dan tidak terkendali.
a. Bekerja dengan otak kiri yang penuh kasih
Di dunia ini ada hokum gigi ganti gigi dan tulang ganti tulang, atau kekerasan harus dihentikan dengan kekerasan.
Perhatikan contoh berikut:
Seorang Ibu melihat anaknya malas belajar dan nilai raportnya jelek; menasehatinya dengan nasihat: “Nak, rajinlah belajar seperti adikmu agar dapat ranking satu seperti dia” .
Kakak merasa dibandingkan dengan adiknya (kekerasan 1). Sang kakak menjadi benci dan sering buat masalah dengan sang adik (kekerasan 2). Ibu melihat perlakuan kakak yang semakin tidak dapat diterima terhadap adiknya, marah “kamu dengan adiknya tidak melindungi malah memusuhi, memang kamu anak yang tidak tau diuntung” (kekerasan 3).
Kakan merasakan perlakuan Ibu yang tidak adil marah dengan ungkapan: “Ibu terhadap saya selalu menyalahkan, apa saya ini anak tiri?” (kekerasan 4).
Perhatikan seluruh kekerasan di atas: kekerasan 1 menyebabkan terjadinya kekerasan 2, kekerasan 2 menyebabkan terjadinya kekerasan 3, dst. Jika hal ini tidak dihentikan kita yakini akan terjadi perang yang amat besar.
Mungkin kasih mengajarkan kepada Ibu tersebut untuk mengalahkan kejahatan dengan kasih. Seorang Ibu yang mulai menyadari bahwa kejahatan tidak mungkin dikalahkan dengan kejahatan namun harus dikalahkan dengan kasih, mulai merubah sikap dengan meminta maaf kepada anaknya atas kekerasan 1 dan kekerasan 3 yang Ibu lakukan dan mengajak anaknya bersama-sama saling menerima apa adanya dengan sikap saling memahami satu sama lain.
Kita para guru harus kenal betul hukum kasih dan sadar benar terhadap implementasinya di kehidupan sehari-hari bersama siswa. Jika hukum kasih diterapkan dengan pola kerja otak kiri yang cerdas saya yakin para siswa dan orang tua akan merasakan perbedaan yangluar biasa antara sekolah kita dengan sekolah lain.
b. Bekerja dengan otak kanan yang penuh kasih
Diantara kita sering melihat satu fakta dan data bersama-sama namun hasil penglihatan kita berbeda. Akibatnya terjadi perdebatan hebat dalam proses saling mempertahankan obyektifitas hasil penglihatan kita.
Perlu diingat bahwa tidak ada orang yang mampu melihat data dan fakta secara obyektif. Data dan fakta yang masuk ke limbik kita tidak diberi makna oleh otak kanan kita yang dipengaruhi pengalaman masa lalu kita, kepentingan kita, keyakinan dan lain-lain.
Faktanya sering kita menganggap hasil penglihatan kita obyektif sehingga kita tidak mau menerima perbedaan diantara kita.
Yakinlah kata-kata bijak: “jangan menganggap dirimu lebih penting”; “jangan melihat debu di mata orang lain, keluarkan dahulu balok di kelopak matamu”.